UNTUK PEREMPUAN INDONESIA : SUDAH PANTASKAH AKU MEMPERLAKUKAN DIRIKU SENDIRI?
Ada pesan menarik di inbox jean yang baru sempat jean baca. Pesan itu dikirimkan dari grup “Komunitas Huma Itah”, sebuah komunitas yang secara fisik bertempat di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, tp anggota grup-nya juga bisa anak-anak dari luar Palangkaraya.
Walau secara administrasi kependudukan jean orang Bali, karena KTP sudah berganti menjadi KTP Bali, tp jean tetap juga orang Palangkaraya karena jean lahir dan tumbuh hingga remaja di kota ini.
Ada satu hal yang menarik yang sering kali juga jean rasakan apabila melihat kondisi remaja saat ini, khususnya remaja Indonesia. Kita terlalu “leluasa” dan “bebas” sampai sebebas-bebasnya memasuki “modernisasi” sehingga budaya modern (jean lebih suka menyebutnya budaya modern dibandingkan budaya barat, karena banyak orang barat yang juga punya budaya yang sama “tabu”-nya seperti orang Timur).
Kenapa jean bisa bilang kita terlalu “leluasa” dan “bebas”, karena kita sudah “lupa” akan status dan pengontrolan diri terhadap arus-arus kemajuan jaman. Jaman semakin maju bukan? Tidak pernah bisa jaman semakin mundur, kecuali dalam moment tertentu yang kita “setting” agar menceritakan masa lalu, tapi umumnya jaman selalu maju. Semakin canggih, semakin flexible, semakin modern. Tapi, yang sering kita “lupa” atau pura-pura lupa, tentang “harga diri”, tentang “martabat”, tentang “kedudukan” tentang “membawa diri sendiri”.
Nggak mau ribet membahas hal-hal lainnya, karena bisa jadi kompleks. Cukup jean mau mengkritik masalah pergaulan remaja. Termasuk mengkritisi pergaulan jean pribadi. SAYA JUGA INTROSPEKSI DIRI. Apakah saya termasuk golongan “remaja yang bodoh dan bebal” atau “remaja yang arif dan pandai” ?
Kembali ke pesan (inbox) yang jean katakan di awal tadi, pesan tersebut dikirim oleh bang Edy Bika, pemilik sekaligus penggagas Komunitas Huma Itah. Dalam pesan tersebut dituliskan pengalaman seorang anak asuhnya yang bernama Rina (ada cerita tentang Rina yang jean tulis jg).
Tulisan yang dikirimkan tersebut demikian :
“Namaku Rina Puspita. Di desaku aku biasa dipanggil Upep. Aku seorang gadis yang berasal dari Desa Tura, sebuah desa di Kecamatan Pulau Malan Kabupten Katingan, di Kalimantan Tengah. Aku adalah seorang anak yang ingin meraih cita-citaku, dengan kumudian aku melanjutkan pendidikan di kota Palangkaraya. Sudah 1 bulan 16 hari aku meninggalkan desaku untuk menuntut ilmu. Banyak pengalaman yang aku dapatkan di lingkungan baru, mulai dari aku bisa mengenal komputer sampai bisa mengoperasikannya. Aku juga sering ikut diskusi yang diselenggarakan oleh Komunitas Huma Itah. Betapa senangnya aku sekarang karena bisa mengenal banyak orang dan aku bisa banyak belajar dari pengalaman ini. Tapi ada hal yang memprihatinkan di kota Palangkaraya, selama pengamatan yang aku alami. Dua minggu yang lalu, ketika aku bersama orang tua angkatku dan anaknya berjalan-jalan ke Sungai Kahayan, di situ terdapat banyak orang. Memang kawasan Sungai Kahayan sering dikunjungi orang-orang untuk meluangkan waktu luangnya. Karena terdapat juga tempat makan tepat di bawah jembatan sungai Kahayan ini, sehingga kita bisa menikmati pemandangan sungai dan aktivitas masyarakat lokal yang bermukim di sekitarnya. Pada saat itu aku melihat pemandangan yang sangat memalukan –bagiku-. Berasal dari sepasang remaja yang sedang berpacaran sambil berendam di dalam air sungai di bagian yang cukup dangkal. Sepasang remaja ini berciuman di air. Bagiku itu bukanlah hubungan yang layak dan pantas bagi orang yang sedang berpacaran melainkan hubungan yang pantas untuk istri-suami. Lalu aku berpikir : Kenapa sih seorang wanita slalu mau direndahkan martabatnya untuk menyenangkan pacarnya sendiri? Apa mungkin karena dia terlalu sayang sama pacarnya? Bagiku kalaupun laki-laki itu benar-benar mencintainya, laki-laki itu tidak akan pernah mau merusak ataupun menyakiti pacarnya. Bagiku apabila ia berbuat seperti itu, itu bukanlah cinta sejati melainkan cinta sesaat yang hanya ingin memuaskan diri untuk hawa nafsunya. Kepuasan sesaat yang berpotensi untuk ditinggalkan pacarnya apabila dia merasa si perempuan sudah tak ada gunanya lagi bagi dirinya. Dan aku merasa itu bukanlah hal yang pantas dilakukan oleh para remaja di jaman sekarang karena hanya akan merugikan diri sendiri.”
(Sebagian isi tulisan diperbaiki menurut “style” jean tanpa mengurangi isi tulisan)
Saat jean membaca tulisan ini, benar sekali. Ini salah satu yang jean sering “kritisi” dari teman-teman sesama remaja dan pemuda.
Berkaitan dengan BODOH & BEBAL :
Orang BODOH adalah bukan orang yang tidak mengerti atau tidak tahu sesuatu hal tersebut, tapi orang yang TIDAK MAU TAU. Orang BODOH adalah orang memiliki otak dan kemampuan tapi TIDAK MAU MENGGUNAKANNYA SEPANTASNYA. Buktinya, sudah tahu kalau hubungan pacaran adalah “pengenalan tahap awal” yang wajar, bukan menyerupai hubungan suami istri yang sudah disahkan secara agama dan hukum. Kita semua pasti TAHU tentang “hukum alam” yang demikian. Tapi, remaja berpacaran tidak sedikit yang berani melakukan hubungan suami istri. Tanpa pernah memikirkan konsekuensi di kemudian hari. INI ADALAH ORANG BODOH.
Orang BEBAL adalah orang yang TAHU, MENGERTI dan PAHAM tentang hal yang baik dan benar, tapi TIDAK MAU MELAKUKANNYA, justru melakukan hal sebaliknya, yaitu hal buruk/jelek. Buktinya, sudah tahu kita punya etika, martabat, norma sosial dan aturan berperilaku, terlebih terhadap lawan jenis yang BUKAN SUAMI/ISTRI SAH kita. Itu diajarkan semua agama bahkan di sekolah pun di ajarkan. Di keluarga pun harusnya diajarkan. Tapi faktanya, tidak sedikit anak muda yang terlibat pergaulan bebas, aktivitas seks bebas dan tidak sehat. INILAH ORANG BEBAL.
Jadi, kalaupun kamu pintar di akademik, pintar melakukan apapun saja, gelar pendidikanmu sampai berderet, penghargan yang kamu dapat banyak, piala yang kamu dapat banyak, talentamu luar biasa, tp kalau tetap tidak mau mengerti dan melakukan yang baik dan benar, apalagi merugikan dirimu dan orang lain, kamu termasuk orang BODOH & BEBAL!
Miris rasanya melihat anak-anak muda yang “salah pilih” dan merugikan dirinya sendiri. Padahal anak-anak muda adalah generasi pemimpin masa depan. Kalau ia sendiri tidak melakukan yang baik untuk dirinya, bagaimana bisa ia melakukan yang baik untuk orang lain? Kalau ia sendiri tidak melakukan yang baik dan benar, bagaimana bisa generasi selanjutnya akan baik, karena contohnya saja meneladankan yang tidak baik.
Ada seorang teman baik yang biasa jean panggil kak Mimi. Dalam status Facebook-nya beberapa hari yang lalu, secara garis besar dia menulis demikan :
“Jika sebuah hubungan (pacaran) tidak membawa kebaikan, mlainkan malah menjerumuskan kita ke dalam hal-hal yang negatif, lebih baik akhiri saja..(dedicated utk semua sahabat-sahabat wanitaku)...“
Faktanya, perempuan sering kali “salah” dalam mengambil sikap. Memang rasa sayang siapa yang bisa melarang sih. Tapi harus disertai dengan logika. Kalau merugikan diri sendiri, sampai membuang “harga diri” yang sudah Tuhan kasih, lebih baik berhenti! Demikian juga dengan laki-laki yang harusnya juga “menghargai” perempuan sebagaimana layaknya perempuan dihargai.
Lalu kalau sudah terlanjur berbuat salah seperti demikian bagaimana? Ya berhenti! Biarkan yang lalu, perbaiki untuk saat ini dan kedepannya. Jadilah remaja dan pemuda yang “PANDAI & ARIF” sehingga kamu layak disebut Remaja dan Pemuda Indonesia yang BAIK & SEHAT :)
PS :
Utk perempuan Indonesia : Kamu layak melakukan dan mendapatkan yang terbaik. Kamu layak mendapatkan pria baik-baik yang memperlakukanmu selayaknya dirimu juga menjaga kehormatanmu. Jadi, hargai dirimu sendiri sebagaimana Tuhan menganggapmu berharga!
Utk laki-laki Indonesia : Kamu berharga dimata Tuhan karena Ia memberikanmu kedudukan sebagai “asal” dari perempuan. Karena itu, hargailah perempuan sebagaimana kamu menghargai dirimu, juga jagalah kehormatannya, sebagaimana kamu menjaga kehormatanmu sendiri. Kamu layak mendapat perempuan yang berharga, yang mampu menjaga “harga dirinya” dengan baik :)
Semoga para remaja dan pemuda Indonesia bisa “merdeka” dari “penjajahan hawa nafsu yang merusak dirinya sendiri”.
Salam hangat untukmu sahabat-sahabatku :)
This is about Jeadist's mind, Jeadist's opinion, Jeadist's argument, and about the way Jeadist looks at all things.
WELCOME TO MY BLOG
Welcome to my Blog。◕‿‿◕。!!
Thank you for visiting.
Please leave some comments in every page you read.
Also, please noted that this is originally my works and I have rights of these all. So for re-post or re-use, confirm 1st to me.
Thank you & GOD BLESS US ^^
Thank you for visiting.
Please leave some comments in every page you read.
Also, please noted that this is originally my works and I have rights of these all. So for re-post or re-use, confirm 1st to me.
Thank you & GOD BLESS US ^^
Kamis, Agustus 20, 2009
Kamis, Agustus 13, 2009
Bank Dunia melanggar standarnya sendiri dalam membangun sektor kelapa sawit di Indonesia
Dear all readers,
sebenarnya ini message yang dikirimkan seorang teman dari group Ikatan Pelajar Borneo. Tapi sengaja jean posting ulang (repost) di note jean, karena g semua kan bergabung di group tersebut sementara informasi fakta ini menarik utk kita tau.
thanks utk sdr Yohansen atas pesan2nya :)
*************************
Bank Dunia melanggar standarnya sendiri dalam membangun sektor kelapa sawit di Indonesia
(Norman Jiwan)
INFORMASI PRESS UNTUK DISIARKAN SEGERA
10 Agustus 2009
Cabang sektor swasta Bank Dunia – International Finance Corporation (IFC) – telah membiarkan kepentingan komersial menggantikan standar sosial dan lingkungan Bank Dunia dalam memberikan pinjaman kepada sektor kelapa sawit di Indonesia, sebuah audit internal mengungkapkan.
Kelapa sawit telah sama dengan pembabatan hutan dan lahan gambut dimana-mana, emisi CO2 besar-besaran dan pencurian tanah-tanah masyarakat adat.
Walaupun IFC tahu semua resiko tersebut, karena proyek-proyeknya yang terdahulu dan peringatan-peringat an dari organisasi-organisa si non pemerintah, IFC tetap meneruskan pinjamanan kepada Wilmar palm oil trading group, melanggar standar-standarnya sendiri, menurut laporan audit tersebut. IFC gagal menilai rantai pemasok (supply chains) atau melihat dampak merusak perkebunan-perkebun an anak perusahaan tersebut yang mengambil-alih tanah-tanah dan hutan di Kalimantan dan Sumatra.
Temuan-temuan tersebut memiliki beberapa implikasi bagi IFC: tidak hanya harus menerapkan standar-standarnya sendiri lebih berhati-hati tetapi IFC juga harus memeriksa kekawatiran soal darimana perusahaan-perusaha an yang IFC danai mendatangkan bahan-bahan baku mereka. Minyak sawit merupakan salah satu contoh komoditas yang diproduksi bertentangan dengan kaidah-kaidah.
Temuan-temuan ini bersumber dari laporan audit yang sangat penting dikeluarkan oleh Compliance Advisory Ombudsman dari IFC yang memeriksa satu laporan lengkap yang disampaikan oleh Forest Peoples Programme dan koalisi 19 organisasi masyarakat sipil Indonesia, termasuk Sawit Watch dan Gemawan.
Norman Jiwan dari NGO pemantau Indonesia, Sawit Watch, mencatat:
Ketika kami menyampaikan laporan kami mencatat bahwa anak-anak perusahaan Wilmar menggunakan api secara ilegal untuk membersihkan hutan primer dan kawasan bernilai konservasi tinggi dan merampas tanah-tanah masyarakat adat tanpa keputusan bebas, dididahulukan dan diinformasikan dari mereka, memicu konflik-konflik yang gawat. Laporan ini menunjukan bahwa IFC menggantikan standar-standarnya sendiri dan mengabaikan peringatan-peringat an kami terdahulu.
Dalam menanggapi laporan tersebut Lely Khairnur dari Gemawan mengatakan:
Pembangunan berarti mengutamakan kebutuhan dan hak-hak masyarakat lokal. Standar-standar IFC menwajibkan ini. Tetapi mereka mengedepankan kepentingan bisnis dan membiarkan tanah-tanah rakyat dirampas demi minyak sawit yang murah dalam pasar internasional. Masyarakat dan hutan milik mereka dirusak dengan semena-mena, dan akhirnya seluruh planet bumi menderita.
Marcus Colchester Direktur Forest Peoples Programme menambahkan:
Kami puas bahwa laporan audit ini membuktikan secara lengkap bahwa semua keprihatinan utama kami, juga tanggapan dari Manajemen IFC terhadap audit tersebut menyarankan mereka sekarang akan mencoba melakukan segala sesuatu dengan berbeda. Tetapi kami masih agak kecewa. Kami harus menunggu lebih dari lima tahun baru IFC menangani persoalan tersebut dengan sungguh-sungguh. Dengan mempertimbangkan pentingnya menghentikan kehancuran hutan dan pelanggaran hak asasi manusia, kami mendesak Presiden IFC untuk mengambil langkah-langkah pro-aktif untuk memastikan bahwa ini tidak akan pernah terjadi lagi.
Hubungi:
Marcus Colchester, Forest Peoples Programme: + 44 1608 652893
Norman Jiwan, Sawit Watch: + 62 251 352171
Lely Khainur, Gemawan: + 62 8134 522 5232
****
Informasi lebih lanjut:
Laporan asli dan koresponden tindak-lanjut dengan IFC dan CAO lihat:
http://www.forestpe oples.org/ documents/ ifi_igo/ifc_ wilmar_fpp_ let_jul07_ eng.pdf
http://www.forestpe oples.org/ documents/ prv_sector/ bases/oil_ palm.shtml
Laporan audit CAO lihat:
http://www.cao- ombudsman. org/uploads/ case_documents/ Combined% 20Document% 201_2_3_4_ 5_6_7.pdf
============ ========= ========= ========= ========= =========
Forest Peoples Programme,
1c Fosseway Business Centre, Stratford Road, Moreton-in-Marsh GL56 9NQ, UK
tel: +44 (0)1608 652893 fax: +44 (0)1608 652878 info@forestpeoples. org www.forestpeoples. org
The Forest Peoples Programme is a company limited by guarantee (England & Wales) Reg. No. 3868836, registered address as above.
UK-registered Charity No. 1082158. It is also registered as a non-profit Stichting in the Netherlands.
Sawit Watch
Jl. Sempur Kaler No. 28
Bogor 16129
Phone: +62-251-8352171
Fax: +62-251-835204
Email: info@sawitwatch. or.id
****
Lembaga Gemawan
Jl. Batas Pandang Kompleks Kelapa Hijau No. 18
Pontianak, Kalimantan Barat
Phone: +62561 586891
Fax: +62561 586891
****
sebenarnya ini message yang dikirimkan seorang teman dari group Ikatan Pelajar Borneo. Tapi sengaja jean posting ulang (repost) di note jean, karena g semua kan bergabung di group tersebut sementara informasi fakta ini menarik utk kita tau.
thanks utk sdr Yohansen atas pesan2nya :)
*************************
Bank Dunia melanggar standarnya sendiri dalam membangun sektor kelapa sawit di Indonesia
(Norman Jiwan)
INFORMASI PRESS UNTUK DISIARKAN SEGERA
10 Agustus 2009
Cabang sektor swasta Bank Dunia – International Finance Corporation (IFC) – telah membiarkan kepentingan komersial menggantikan standar sosial dan lingkungan Bank Dunia dalam memberikan pinjaman kepada sektor kelapa sawit di Indonesia, sebuah audit internal mengungkapkan.
Kelapa sawit telah sama dengan pembabatan hutan dan lahan gambut dimana-mana, emisi CO2 besar-besaran dan pencurian tanah-tanah masyarakat adat.
Walaupun IFC tahu semua resiko tersebut, karena proyek-proyeknya yang terdahulu dan peringatan-peringat an dari organisasi-organisa si non pemerintah, IFC tetap meneruskan pinjamanan kepada Wilmar palm oil trading group, melanggar standar-standarnya sendiri, menurut laporan audit tersebut. IFC gagal menilai rantai pemasok (supply chains) atau melihat dampak merusak perkebunan-perkebun an anak perusahaan tersebut yang mengambil-alih tanah-tanah dan hutan di Kalimantan dan Sumatra.
Temuan-temuan tersebut memiliki beberapa implikasi bagi IFC: tidak hanya harus menerapkan standar-standarnya sendiri lebih berhati-hati tetapi IFC juga harus memeriksa kekawatiran soal darimana perusahaan-perusaha an yang IFC danai mendatangkan bahan-bahan baku mereka. Minyak sawit merupakan salah satu contoh komoditas yang diproduksi bertentangan dengan kaidah-kaidah.
Temuan-temuan ini bersumber dari laporan audit yang sangat penting dikeluarkan oleh Compliance Advisory Ombudsman dari IFC yang memeriksa satu laporan lengkap yang disampaikan oleh Forest Peoples Programme dan koalisi 19 organisasi masyarakat sipil Indonesia, termasuk Sawit Watch dan Gemawan.
Norman Jiwan dari NGO pemantau Indonesia, Sawit Watch, mencatat:
Ketika kami menyampaikan laporan kami mencatat bahwa anak-anak perusahaan Wilmar menggunakan api secara ilegal untuk membersihkan hutan primer dan kawasan bernilai konservasi tinggi dan merampas tanah-tanah masyarakat adat tanpa keputusan bebas, dididahulukan dan diinformasikan dari mereka, memicu konflik-konflik yang gawat. Laporan ini menunjukan bahwa IFC menggantikan standar-standarnya sendiri dan mengabaikan peringatan-peringat an kami terdahulu.
Dalam menanggapi laporan tersebut Lely Khairnur dari Gemawan mengatakan:
Pembangunan berarti mengutamakan kebutuhan dan hak-hak masyarakat lokal. Standar-standar IFC menwajibkan ini. Tetapi mereka mengedepankan kepentingan bisnis dan membiarkan tanah-tanah rakyat dirampas demi minyak sawit yang murah dalam pasar internasional. Masyarakat dan hutan milik mereka dirusak dengan semena-mena, dan akhirnya seluruh planet bumi menderita.
Marcus Colchester Direktur Forest Peoples Programme menambahkan:
Kami puas bahwa laporan audit ini membuktikan secara lengkap bahwa semua keprihatinan utama kami, juga tanggapan dari Manajemen IFC terhadap audit tersebut menyarankan mereka sekarang akan mencoba melakukan segala sesuatu dengan berbeda. Tetapi kami masih agak kecewa. Kami harus menunggu lebih dari lima tahun baru IFC menangani persoalan tersebut dengan sungguh-sungguh. Dengan mempertimbangkan pentingnya menghentikan kehancuran hutan dan pelanggaran hak asasi manusia, kami mendesak Presiden IFC untuk mengambil langkah-langkah pro-aktif untuk memastikan bahwa ini tidak akan pernah terjadi lagi.
Hubungi:
Marcus Colchester, Forest Peoples Programme: + 44 1608 652893
Norman Jiwan, Sawit Watch: + 62 251 352171
Lely Khainur, Gemawan: + 62 8134 522 5232
****
Informasi lebih lanjut:
Laporan asli dan koresponden tindak-lanjut dengan IFC dan CAO lihat:
http://www.forestpe oples.org/ documents/ ifi_igo/ifc_ wilmar_fpp_ let_jul07_ eng.pdf
http://www.forestpe oples.org/ documents/ prv_sector/ bases/oil_ palm.shtml
Laporan audit CAO lihat:
http://www.cao- ombudsman. org/uploads/ case_documents/ Combined% 20Document% 201_2_3_4_ 5_6_7.pdf
============ ========= ========= ========= ========= =========
Forest Peoples Programme,
1c Fosseway Business Centre, Stratford Road, Moreton-in-Marsh GL56 9NQ, UK
tel: +44 (0)1608 652893 fax: +44 (0)1608 652878 info@forestpeoples. org www.forestpeoples. org
The Forest Peoples Programme is a company limited by guarantee (England & Wales) Reg. No. 3868836, registered address as above.
UK-registered Charity No. 1082158. It is also registered as a non-profit Stichting in the Netherlands.
Sawit Watch
Jl. Sempur Kaler No. 28
Bogor 16129
Phone: +62-251-8352171
Fax: +62-251-835204
Email: info@sawitwatch. or.id
****
Lembaga Gemawan
Jl. Batas Pandang Kompleks Kelapa Hijau No. 18
Pontianak, Kalimantan Barat
Phone: +62561 586891
Fax: +62561 586891
****
Langganan:
Postingan (Atom)