This is about Jeadist's mind, Jeadist's opinion, Jeadist's argument, and about the way Jeadist looks at all things.
WELCOME TO MY BLOG
Thank you for visiting.
Please leave some comments in every page you read.
Also, please noted that this is originally my works and I have rights of these all. So for re-post or re-use, confirm 1st to me.
Thank you & GOD BLESS US ^^
Kamis, Agustus 13, 2009
Bank Dunia melanggar standarnya sendiri dalam membangun sektor kelapa sawit di Indonesia
sebenarnya ini message yang dikirimkan seorang teman dari group Ikatan Pelajar Borneo. Tapi sengaja jean posting ulang (repost) di note jean, karena g semua kan bergabung di group tersebut sementara informasi fakta ini menarik utk kita tau.
thanks utk sdr Yohansen atas pesan2nya :)
*************************
Bank Dunia melanggar standarnya sendiri dalam membangun sektor kelapa sawit di Indonesia
(Norman Jiwan)
INFORMASI PRESS UNTUK DISIARKAN SEGERA
10 Agustus 2009
Cabang sektor swasta Bank Dunia – International Finance Corporation (IFC) – telah membiarkan kepentingan komersial menggantikan standar sosial dan lingkungan Bank Dunia dalam memberikan pinjaman kepada sektor kelapa sawit di Indonesia, sebuah audit internal mengungkapkan.
Kelapa sawit telah sama dengan pembabatan hutan dan lahan gambut dimana-mana, emisi CO2 besar-besaran dan pencurian tanah-tanah masyarakat adat.
Walaupun IFC tahu semua resiko tersebut, karena proyek-proyeknya yang terdahulu dan peringatan-peringat an dari organisasi-organisa si non pemerintah, IFC tetap meneruskan pinjamanan kepada Wilmar palm oil trading group, melanggar standar-standarnya sendiri, menurut laporan audit tersebut. IFC gagal menilai rantai pemasok (supply chains) atau melihat dampak merusak perkebunan-perkebun an anak perusahaan tersebut yang mengambil-alih tanah-tanah dan hutan di Kalimantan dan Sumatra.
Temuan-temuan tersebut memiliki beberapa implikasi bagi IFC: tidak hanya harus menerapkan standar-standarnya sendiri lebih berhati-hati tetapi IFC juga harus memeriksa kekawatiran soal darimana perusahaan-perusaha an yang IFC danai mendatangkan bahan-bahan baku mereka. Minyak sawit merupakan salah satu contoh komoditas yang diproduksi bertentangan dengan kaidah-kaidah.
Temuan-temuan ini bersumber dari laporan audit yang sangat penting dikeluarkan oleh Compliance Advisory Ombudsman dari IFC yang memeriksa satu laporan lengkap yang disampaikan oleh Forest Peoples Programme dan koalisi 19 organisasi masyarakat sipil Indonesia, termasuk Sawit Watch dan Gemawan.
Norman Jiwan dari NGO pemantau Indonesia, Sawit Watch, mencatat:
Ketika kami menyampaikan laporan kami mencatat bahwa anak-anak perusahaan Wilmar menggunakan api secara ilegal untuk membersihkan hutan primer dan kawasan bernilai konservasi tinggi dan merampas tanah-tanah masyarakat adat tanpa keputusan bebas, dididahulukan dan diinformasikan dari mereka, memicu konflik-konflik yang gawat. Laporan ini menunjukan bahwa IFC menggantikan standar-standarnya sendiri dan mengabaikan peringatan-peringat an kami terdahulu.
Dalam menanggapi laporan tersebut Lely Khairnur dari Gemawan mengatakan:
Pembangunan berarti mengutamakan kebutuhan dan hak-hak masyarakat lokal. Standar-standar IFC menwajibkan ini. Tetapi mereka mengedepankan kepentingan bisnis dan membiarkan tanah-tanah rakyat dirampas demi minyak sawit yang murah dalam pasar internasional. Masyarakat dan hutan milik mereka dirusak dengan semena-mena, dan akhirnya seluruh planet bumi menderita.
Marcus Colchester Direktur Forest Peoples Programme menambahkan:
Kami puas bahwa laporan audit ini membuktikan secara lengkap bahwa semua keprihatinan utama kami, juga tanggapan dari Manajemen IFC terhadap audit tersebut menyarankan mereka sekarang akan mencoba melakukan segala sesuatu dengan berbeda. Tetapi kami masih agak kecewa. Kami harus menunggu lebih dari lima tahun baru IFC menangani persoalan tersebut dengan sungguh-sungguh. Dengan mempertimbangkan pentingnya menghentikan kehancuran hutan dan pelanggaran hak asasi manusia, kami mendesak Presiden IFC untuk mengambil langkah-langkah pro-aktif untuk memastikan bahwa ini tidak akan pernah terjadi lagi.
Hubungi:
Marcus Colchester, Forest Peoples Programme: + 44 1608 652893
Norman Jiwan, Sawit Watch: + 62 251 352171
Lely Khainur, Gemawan: + 62 8134 522 5232
****
Informasi lebih lanjut:
Laporan asli dan koresponden tindak-lanjut dengan IFC dan CAO lihat:
http://www.forestpe oples.org/ documents/ ifi_igo/ifc_ wilmar_fpp_ let_jul07_ eng.pdf
http://www.forestpe oples.org/ documents/ prv_sector/ bases/oil_ palm.shtml
Laporan audit CAO lihat:
http://www.cao- ombudsman. org/uploads/ case_documents/ Combined% 20Document% 201_2_3_4_ 5_6_7.pdf
============ ========= ========= ========= ========= =========
Forest Peoples Programme,
1c Fosseway Business Centre, Stratford Road, Moreton-in-Marsh GL56 9NQ, UK
tel: +44 (0)1608 652893 fax: +44 (0)1608 652878 info@forestpeoples. org www.forestpeoples. org
The Forest Peoples Programme is a company limited by guarantee (England & Wales) Reg. No. 3868836, registered address as above.
UK-registered Charity No. 1082158. It is also registered as a non-profit Stichting in the Netherlands.
Sawit Watch
Jl. Sempur Kaler No. 28
Bogor 16129
Phone: +62-251-8352171
Fax: +62-251-835204
Email: info@sawitwatch. or.id
****
Lembaga Gemawan
Jl. Batas Pandang Kompleks Kelapa Hijau No. 18
Pontianak, Kalimantan Barat
Phone: +62561 586891
Fax: +62561 586891
****
Jumat, Juni 26, 2009
Curahan hati seorang anak gadis Dayak...
Salam persaudaraan untuk saudara-saudaraku di seluruh wilayah yg kita sebut NUSANTARA. Salam persaudaraan bagi semua saudara-saudaraku sebangsa bangsa INDONESIA tanpa mengenal perbedaan, walau kadang sering kali aku dan keluargaku dibedakan.
AKU ADALAH SEORANG ANAK GADIS DAYAK. Keluargaku bukan orang yang sadis. Kami mampu menjalin hubungan kemanusiaan secara normal layaknya orang-orang suku bangsa lain di Indonesia maupun di dunia ini. Jadi kenapa harus dianggap sadis dan kejam?
Kami, aku dan keluarga Dayakku, adalah orang-orang yg terbiasa hidup dimanja alam. Semua sumber kehidupan kami miliki di tanah kami yang tak kalah kaya. Dulu kami tak perlu bersusah payah hidup di alam bebas. Sungai-sungai kami yg besar memiliki banyak ikan. Hutan kami yg luas memiliki banyak sumber makanan dan barang-barang tambang yg mampu menambah penghasilan.Dan kini, itu semua bukan untuk kita kuras habis lantas kita biarkan punah tak terjaga. Tapi justru kita lestarikan dan pertahankan untuk generasi kita yang akan datang. Jadi kenapa kita saling menghancurkan? Tidak bisakah kita saling membantu untuk menjaga kehidupan yang masih tersisa. Kalau hutan habis dan gundul, sungai-sungai tercemar, mau makan dari mana?
Aku dan keluarga Dayak-ku bukanlah orang-orang yang buas, liar, yg hidup di alam bebas, di hutan rimba tanpa peraturan, moral dan etika. Kami hidup, walaupun di tengah rimba, di pinggir sungai, di perbukitan dan di pegunungan, kami tetap mengenal dan memiliki etika. Kami jg mengerti bagaimana caranya berlaku baik dan sopan pada orang asing yg kami baru temui. Jadi kenapa harus ditakuti?
Kami jg mampu bersikap baik dan ramah, layaknya saudara-saudaraku orang Bali yg terkenal akan keramah-tamahannya hingga ke belahan dunia lain. Lihatlah, saudara-saudaraku orang Bali pun banyak tinggal dan hidup di tanah kami. Kami pun hidup dengan damai.
Kami jg mampu bersikap sopan dan santun, layaknya saudara-saudaraku orang Jawa, yg terkenal akan kesantunan dan kesopanannya. Lihatlah, tak sedikit anak cucu kami yg kemudian menjadi saudara sedarah denga saudara-saudaraku orang Jawa. Kami mampu hidup dengan damai.
Dayak, bukanlah suku bangsa barbar, yg sadis, ganas dan bukan pemakan manusia. Jean selalu miris dan merasa sesak kalau mendengar komentar atau pendapat orang-orang SOK TAHU yg seolah-olah benar2 TAU dan MENGENAL siapa dan bagaimana orang Dayak.
Ya, aku mengerti, karena pertikaian beberapa tahun lalu, saudara-saudara kemudian menganggap kami, aku dan keluarga Dayakku, sebagai suku bangsa yg sadis, ganas dan tak kenal rasa kemanusiaan. Tapi itu reaksi kemanusiaan yg manusiawi saat keluargaku merasa ditindas dan mempertahankan rumah kami. Kenapa pertikaian itu kembali diungkit-ungkit dan harus menjadi standar penilaian bahwa aku dan keluarga Dayak-ku bukan orang yg beradab?
Aku dan keluarga Dayak-ku memiliki kebudayaan, sama uniknya dengan kebudayaan saudara-saudaraku di bagian nusantara yg lain. Sama bernilainya dengan kebudayaan bangsa lain. Sama indahnya dan sama-sama tak ada duanya :)
Perbedaan yang kita miliki bukan untuk kita bedakan atau persamakan, tapi untuk saling melengkapi dan saling mendukung dalam kehidupan kita. Karena bagaimanapun, kita tidak akan mampu hidup sendiri.
Aku dan keluarga Dayakku tidak akan mampu hidup berkembang dan maju tanpa bantuan saudara-saudara senusantaraku. Demikian sebaliknya. Alangkah indahnya kalau kita mau saling mengenal. Bukankah tak kenal maka tak akan bisa menyayangi?
Aku, seorang anak gadis Dayak, dan keluargaku, kami adalah orang-orang yang mau dan mampu menerima saudara-saudaraku dengan tangan terbuka. Jadi kenapa kita tidak mampu hidup saling berdampingan dan saling membeda-bedakan status dan kedudukan?
Jadi kenapa kita harus saling membadakan, kalau kita memang sudah beda. Tidak bisakah perbedaan itu yang membuat kita saling menghargai dan mengasihi sesama satu bumi?
(Note: terima kasih untuk orang-orang yg menginspirasikan jean)
Selasa, Agustus 05, 2008
OWA KALIMANTAN HAMPIR PUNAH!!!!!
Kalau kita sering menonton siaran teve mengenai lingkungan hidup maupun dunia satwa (fauna), sering sekali akhir2 ini liputan mengenai Owa-owa di Kalimantan khususnya Kalimantan Tengah disiarkan (Di Metro TV, Trans7, Trans TV sampai channel teve luar negeri) sampai artkel2nya juga diterbitkan di koran dan sampai dibahas di beberapa forum dan website organisasi pemerhati lingkungan hidup.
Jeadist pun sedikit bangga saat tman2 exchange students dari Jerman memuji Kalteng sebagai tempat rehabilitasi dan habitat Owa. Tapi sebenarnya lebih banyak mirisnya. Lho????
Gimana nggak miris kalau keseluruhan liputan memberitakan beralihnya kawasan hutan di Kalimantan khususnya di Kalimantan Tengah untuk beragam peruntukan, terutama perkebunan kelapa sawit. Namun, sepertinya tidak disadari padahal kita semua sudah tau, bahwa peralihan fungsi hutan malah banyak membarikan dampak negatif bagi kelestarian lingkungan hidup kita dibandingkan dengan dampak positifnya. Apakah masyarakat lokal merasakan manfaat perkebunan kelapa sawit dengan merata? Kalau merasakan panas dan iklim yang tidak menentu karena berkurangnya pepohonan hijau, semua pasti merasakan.
Lebih miris lagi saat tman2 Exchange Students dari Jerman tsb mengatakan di Bremen, Jerman, dan daerah lain di Jerman, sudah melestarikan pepohonan, dan bahkan ada hutan kota, sedangkan Kalimantan yang terkenal sebagai zamrud khatulistiwa, hutan yang tersisa ada berapa? Bahkan yang tersisa pun rusak berat dan kritis. Dan untuk Kalteng sendiri, luas hutan kritis sekitar 7,5 juta hektar dari total 10 juta hektar. Duhh,,, tak layak lagi pulau Kalimantan menyandang gelar kebanggaan Zamrud Khatulistiwa.
Berdasarkan catatan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalimantan Tengah, laju kerusakan hutan per tahun rata-rata sekitar 250.000 hektar. Rusaknya hutan terutama akibat penyalahgunaan izin pemanfaatan kayu, hak pengusahaan hutan, konversi hutan untuk perkebunan kelapa sawit, pertambangan, dan pembalakan liar.
Gerang memang kalau memikirkan tentang kelakuan oknum2 baik pengusaha, masyarakat yang terlibat sampai pejabat, yang mementingkan profit economy oriented dibandingkan kelestarian lingkungan hidup untuk masa depan anak cucunya nanti.
Terlebih lagi yang membuat gerang adalah peralihan fungsi hutan hanya mengancam kelestarian owa di Kalimantan. Kok bisa? Ya karena owa hidupnya di hutan alami bukan di kandang besi. Hutan, yang saat ini sudah habis ditebang maupun dijadikan lahan perkebunan, serta yang tersisa pun rusak, merupakan habitat primata ini. Sama halnya manusia perlu rumah untuk bernaung dan tinggal untuk melakukan aktivitas hidupnya, demikian juga hewan yang tersiksa karena ulah manusia bernama Owa ini, juga perlu tempat tinggal alias rumah. Rumahnya ya Hutan.
Bukankah manusia diciptakan Tuhan dengan status yang paling tinggi di antara ciptaan lainnya untuk menjadi wakilNya dalam menjaga dan melestarikan serta merawat ciptaan Tuhan yang lain, termasuk Owa, juga Hutan.
Setiap keluarga owa atau kalaweit dalam bahasa Dayak, memerlukan area jelajah hingga 30 hektar dan satu keluarga owa tidak bisa berbagi wilayah dengan keluarga owa lainnya. Sedangkan saat ini sulit mencari hutan yang masih alami tanpa kerusakan untuk habitat owa.
Owa merupakan jenis satwa yang banyak diburu oleh masyarakat umum dan juga banyak dipelihara pejabat karena sering kali diberikan sebagai tanda mata kepada pejabat bersangkutan. Hal ini karena Owa memiliki suara lengkingan yang bagus sehingga fungsinya bagi si pemilik tak ubahnya burung kicau. Ow pun kemudian diburu dan dijual di pasar gelap. Harga anak Owa yang berumur sekitar enam bulan pun murah hanya sekitar 200rb. Duhhh, miris ya....
Let us keep the everlasting of our environment by start it in our own home and help to save the Owa and our Forest by critic about this problem, don’t just keep in silence. Bukankah masing-masing 1 orang menanam pohon dan merawatnya, akan membantu melestarikan hutan??!!!! Go Green!!! Stop the Hunting of Owa, Illegal Logging and Global Warming!!!!!
(berbagai sumber)Rabu, Juli 02, 2008
The Tourism Envoy of Central Kalimantan on The Traditional Dance Performance in Art Center-Denpasar, Bali 2008
Last night, I went to the Pesta Kesenian Bali abbreviated PKB or in English it may called the celebration of Balinese Art, with my cousin and two friends of us. One of our friends comes from Depok origin of Batak and the last comes from Bali origin Central Sumba-East Nusa Tenggara.
We designedly came to watch the traditional dance performing from Central Borneo or Kalimantan Tengah. This year, Kalimantan Tengah abbreviated Kalteng, showed the traditional dance from East Barito Regency. Of course there is a couple of tourism envoy.
We arrived when the show is in the middle, because we were lost before. It’s too hard to search the performance closed room “Ayodya” because we cannot found any direction board to help us in Art Center of Denpasar. But, it didn’t make we lose our spirit. We still have a high appreciate to watch the Dayak traditional dance.
Since the performance, I cannot lose my attention. I’m really proud of my own culture. I thank God about study far from hometown, so I can proud and appreciate it. I’m proud because i can feel my traditions and culture are priceless. When I saw the other audiences, they also gave the same big appreciate for it. The domestic audiences even the international audiences. Many of the foreign audiences took some pictures and admired the performance. But, my happiness was disturbed by the tourism envoy of Kalteng. Both of them didn’t give the same appreciate as all of the audiences. Both of them didn’t give the full of attention for their own performance.
I really fully disappointed when I saw both of them was using their cellular phones just like made some call during the performance goes on. They were look too passionate also was too busy with themselves. I know that was not my business. But, I’m a critical person. Especially when a foreign audience came to one of the envoy, she just ignored him. More, she just busy with her phone calls. So I gave some comment to my cousin about them–not at the right moment-attitude.
I spoke to my cousin in the Dayak language, so there’s nobody could understand because the other audiences is Balinese, java, or foreign. But, i really didn’t expected before, the man in front of us, was the vice president of the province tourism department. He turned back his body to see us behind. We knew then if he is the same origin as us. Then I asked apologize for my words. I know i was too critical but i have a good will. It’s for their evaluating in the future, so then could be better than today. As a tourism student, my cousin and I really upset to the tourism envoy of Kalteng attitudes. Not only myself, but my cousin and our friends are agree with me.
Then we returned from the Art Center, my cousin and I discuss about them. We connected it with the other envoy such as the Duta Bahasa or Language Envoy, Putri Kalteng or Miss Kalteng, the same things happened. We concluded that the committee who organize the envoy-programs isn’t having the good standards for the winners who will represent their origin to introduce their own culture. It just like the committee didn’t pay much attention for the important aspects such as the knowledge of their own social-culture, their educational background match to the program or not, ability in foreign language actively writing and speaking, and the most is their attitude is originally kind, active, responsive, friendly, and have a good character. Before and today, it seems the envoy just chosen because of their charming aspect, their beauty-physical performance, or the other tangible aspects. Most of them background experiences is from modeling. How if the envoy has the experience background such as joint the exchange student program in culture, science, or other major? Maybe the envoy from Kalteng will be the winner in the Indonesian election.
I hope the other envoys are not the same. I wish for the next year, whoever become the tourism envoy is different that the more before.